Saturday, December 29, 2018

Laba Kotor

Kuantitas harga, HPP, adapun komponen pokok HPP yaitu persediaan awal dan pembelian. HP produksi dengan penjualan terbagi dua yaitu biaya penjualan dan biaya admin umum. Komponen baiaya yang tidak melekat diproduk tapi harus ada.

Adapun biaya tetap dan biaya variabel dipengaruhi oleh Produksi BB, Bahan penolong. Sewa gedung dan Asuransi tidak dipengaruhi oleh volume produksi.

Laporan keuangan PT. X

- Lporan laba rugi
- Neraca
- Perubahan modal, kuantitas & perubahan keuangan

Penjualan                                   XXX
Harga pokok penjualan             XX            
          Laba kotor                       XX

Penjualan                                   XXXX
HPP:
Persediaan awal                         X
Pembelian                                  X              
Brang tersedia untuk dijual       XX
Persediaan akhir                              X        
            HPP                               XXX
Laba kotor atas penualan

→ Biaya pemasaran (iklan, flyer, promosi, web)
→ Biaya Admin & Umum
→ Laba bersih sebelum pajak
(pendapatn lain-lain sama dengan pendapatan giro adapun pendapatan lain-lain yaitu Pendapatan Bunga dan Pendapatan Jasa Giro.

Harga pokok produksi mencakup:

  • BBB
  • BTKL
  • BOP → BTKL & Biaya Lainnya   
Penjualan 

Kuantitas ↗↗  ( Price (P) x Quality (Q) )

(Q2 . Q1) x P
ex. ( 100 - 50 ) x 1
                 (50) x 1
                   = 50

Harga ↗↗ 

( P2 - P1) x Q
( 50 - 25 ) x 100
      ( 25 )  x 100
            = 2,500

HPP ↗↙
Harga pokok naik, maka laba akan turun

Keterangan : 
↗ Naik
↙ Turun

Akutansi Manajemen

Dalam ilmu akutansi, akutansi manajemen merupakan bukti-bukti transaksi keuangan yang disusun dan dilengkapi untuk laporan keuangan (proses pencatatan transaksi yang tersusun menjadi laporan, baik rugi atau laba, oleh perusahaan baik intern atau extern).

Akuntansi manajemen

Keuangan (untuk pihak eksternal, credit bank, pemegang saham), berikut perbedaan manajemen dan keuangan :

MANAJEMEN

  • Data masa lalu atau orientasinya masa yang akan datang
  • Tenggang informasi waktu pelaporan yang tepat, bisa diminta persewaktu-waktu (flexibel) ketika diminta harus sudah ada
  • Dalam presisi kurang akrena terlalu cepat
  • Laporan mencakup BB, BOP, BTL, data produksi menyerupai akuntansi biaya tapi tidak sama.
KEUANGAN
  • Data keuangan yang rinci dasar penyusunannya
  • Tenggang waktunya sudah Daily atau jangka waktunya lebih panjang (kurang flexible)
  • Presisinya baik karena teratur

proses manajemen dan hubungan dengan pengambilan keputusan, adapun sifat mandatori yaitu, pihak pemerintah lebih ke keuangan karena harus mengikuti kaedah-kaedah tertentu. Dan sangat kuat cara penyusunannya dan harus sesuai, bedanya dengan manajemen bisa diikuti namun di backup dengan laporan-laporan lainnya tidak harus terpacu oleh pemerintah.

Tuesday, June 9, 2015

Perbedaan E-commerce dengan Retail

Berikut akan dijelaskan perbedaan e-commerce dengan Retail sebagai berikut :
E-commerce : 
  • Menggunakan media internet sebagai penghubung jual beli.
  • Transaksi dilakukan tidak secara langsung tatap muka dan harganya tidak bisa ditawar seperti halnya contoh : Lazada.co.id, Amazon.com, Rakuten.co.id etc. mereka hanya memiliki discount untuk beberapa barang dengan ketentuan tertentu yang berlaku.
  • Pembayarannya menggunakan atm ataupun kartu credit.
  • Tidak bisa langsung menyentuh ataupun merasakan kualitas brang secara langsung hanya saja biasanya dijelaskan untuk jenis bahan ataupun barang yang akan dibeli oleh konsumen.
  • Karena sistem pengiriman biasanya biaya yang dikeluarkan untuk barang yang akan dibeli belum termasuk pajak untuk proses pengiriman (biaya pengiriman) sesuai dengan dimana konsumen itu tinggal.
  • E-commerce pembelanjaannya lebih mudah karena tidak harus keluar rumah atau datang ke toko utnuk membeli barangnya dan bisa dilakukan dimana saja selama ada koneksi internet.
Retail :
  • Secara langsung datang pada toko yang dituju sesuai dengan daerah masing-masing konsumen.
  • Transaksinya dapat berupa cash ataupun menggunakan kartu kredit maupun debit.
  • barang yang dibeli terlihat langsung dengan kasat mata dan masih bisa mempertimbangkan kualitas barang yang akan dibeli.
  • Karena langsung untuk membeli barang yang besar ataupun banyak konsumen harus membawa kenderaan yang lebih besar ataupun minta dianta kerumah seprti contoh : Lemari pakaian, Kulkas, dll.
  • Bila retailnya adalah eceran kecil konsumen dapat menawarkan dengan harga yang lebih murah untuk pembelian dengan jumlah banyak. Namun apabila dengan retail besar seperti supermarket mereka sudah mencantumkan harga pas untuk barang tersebut dan tidak dapat ditawar.

Postingan Diambil :,http://daniel-roberto1.blogspot.com/, http://ericsamuel.blogspot.com/,http://putrimeiningrum.blogspot.com/2011/02/pengertian-manajemen-retail_17.html


Pengertian E-commerce dan Retail konvensional

GAMBARAN UMUM TENTANG RETAIL

Pengertian Retail
Retail adalah penjualan dari sejumlah kecil komoditas kepada konsumen.
Retail berasal dari bahasa Perancis yaitu ” Retailer” yang berarti ” Memotong menjadi kecil kecil” (Risch, 1991 ). Sedangkan menurut Gilbert (2003) Retail adalah Semua usaha bisnis yang secara langsung mengarahkan kemampuan pemasarannya untuk memuaskan konsumen akhir berdasarkan organisasi penjualan barang dan jasa sebagai inti dari distribusi. Dalam kamus Bahasa Inggris – Indonesia, Retail bisa juga di artikan sebagai “Eceran”. Pengertian Retailing adalah semua aktivitas yang mengikut sertakan pemasaran barang dan jasa secara langsung kepada pelanggan. Pengertian Retailer adalah semua organisasi bisnis yang memperoleh lebuh dari setengah hasil penjualannya dari retailing ( lucas, bush dan Gresham, 1994)
Klasifikasi Retail. Menurut Pintel dan Diamond (1971), Retail dapat di klasifikasikan dalam banyak cara, sebagai contoh Retail dapat di kelompokkan sesuai dengan aktivitas penjualan barang berdasarkan sbb :

- Retail Kecil
Bisnis Retail kecil di gambarkan sebagai retailer yang berpenghasilan di bawah $500 pertahun. Pemilik retail pada umumnya bertanggung jawab penuh terhadap seluruh penjualan dan manajemen.
Biasanya kebanyakan pemilik toko pada bisnis retail kecil ini dimiliki oleh secara individu (Individual Proprietorship)
- Retail Besar
Pada saat ini industri Retail di kuasai oleh organisasi besar, organisasi tersebut meliputi : Departemen Store – Chain organization (organisasi berantai), Supermarket, Catalog Store, Warehouse, Outlet dan Online Store (Toko Online )
Departemen Store merupakan salah satu dari retailer besar dimana menawarkan berbagai macam jenis produk / barang, tingkat harga dan kenyamanan dalam berbelanja.

Faktor-faktor ekonomi yang relevan dalam memilih retail store antara lain meliputi:
1. Harga.
Ada retail store yang memasang harga mati seperti supermarket dan departement store) dan ada pula yang menetapkan harga fleksibel atau dapat ditawar (seperti discount store).

2. Kemudahan
Kemudahan parkir, bisa cepat pergi setelah membayar, dan mudah mencari barang yang diinginkan (meliputi proses menemukan, membandingkan, dan memilih).

3. Kualitas produk yang ditawarkan.

4. Bantuan wiraniaga.
Apakah harus swalayan, membantu ecara pasif, atau membantu secara aktif.

5. Reputasi
Kejujuran dan kewajaran dalam jual beli.

6. Nilai yang ditawarkan
Yaitu perbedaan total customer value dan total customer cost. Total customer value adalah sekumpulan manfaat yang diharapkan pelanggan dari produk dan jasa, meliputi
product value (misalnya keandalan, daya tahan/keawetan, unjuk kerja), service value (penyerahan barang, pelatihan, instalasi, perawatan, reparasi), personnel value (kompeten, responsif, empati, dapat dipercaya), dan image value (citra perusahaan). Sedangkan total customer cost terdiri dari harga yang dibayarkan, biaya waktu, biaya tenaga, dan biaya psikis.

7. Jasa-jasa khusus yang ditawarkan.
Pengiriman barang gratis, pembelian kredit dan bisa mengembalikan atau menukar barang yang sudah dibeli.

KOMUNIKASI VISUAL DALAM RETAIL

Komunikasi peritel dengan pelanggannya tidaklah selalu dengan media massa seperti dengan suara di radio, dengan tulisan dan gambar seperti di majalah dan koran, ataupun dengan media suara dan gambar seperti di televisi. Komunikasi dapat terjadi melalui gambaran visual, lay out maupun display produk di dalam toko.
Komunikasi visual adalah komunikasi perusahaan ritel atau toko dengan konsumennya melalui wujud fisik, seperti identitas toko, lay out dan display maupun in-store communication.
Dengan menerapkan komunikasi visual secara menyeluruh, akan meningkatkan atau menambah citra toko yang lebih baik di mata konsumen. Berikut adalah beberapa unsur dari citra toko, yaitu :

• Produk – Merchandise seperti harga, kualitas, keragaman kategori, ketersediaan item (warna, ukuran, jenis).

• Lokasi yang mudah dijangkau, aman, dan berada dalam suatu pusat pembelanjaan atau dekat dengan toko-toko ritel lainnya.

• Mengutamakan pelayanan pada segmen tertentu yang sesuai dengan karakteristik demografi calon pembeli, seperti para remaja dan dewasa muda, para keluarga atau para ibu rumah tangga kalangan tertentu.

• Pelayanan, seperti pilihan cara bayar, delivery service, maupun catalog yang dikirimkan ke rumah.

 Pramuniaga/staf/kasir, seperti perilaku dalam melayani (ramah, sopan, sigap), pengetahuan produk, dan jumlah tenaga yang memadai.

• Citra kepribadian perusahaan atau toko, seperti lengkap/serba ada dan canggih.

• Fasilitas, seperti food court, parkir, toilet.

• Store ambience/atmosfer, seperti dekorasi eksterior yang modern dan anggun, dekorasi interior yang menarik, situasi yang membuat betah (tata warna, musik, pencahayaan), sirkulasi dalam toko yang memudahkan bergerak, lay out atau penataan produk, display yang menarik.

• Promosi, seperti secara teratur melakukan promosi hadiah, memberikan diskon, even khusus, program kupon, program undian berhadiah.


Definisi E-commerce

Proses pembelian dan penjualan jasa atau produk antara dua belah pihak melalui internet. (Commerce net ). Suatu jenis mekanisme bisnis elektronik dengan fokus pada transaksi bisnis berbasis individu dengan menggunakan internet sebagai media pertukaran barang atau jasa baik antar instansi atau individu dengan instansi (Net-Ready)

Karakteristik Utama E-Commerce:
1. Terjadinya transaksi antara dua belah pihak
2. Adanya pertukaran barang, jasa, atau informasi
3. Internet merupakan mediium utama dalam proses atau mekanisme perdagangan tersebut.

E-commerce terbagi atas dua segmen yaitu
-Business to business e- commerce (perdagangan antar pelaku usaha)
-Business to consumer e-commerce (perdagangan antar pelaku usaha dengan konsumen

Perkembangan E-Commerce
Di Indonesia, fenomena e-commerce ini dikenal sejak tahun 1996 dengan munculmya situs http:// www.sanur.com sebagai toko buku on-line pertama
Generasi 1:
Internet sebagai media promosi perusahaan melalui situs web atau brosur elektronis.
Generasi 2:
Pengguna telah dapat melakukan pemesanan produk melalui internet (aplikasi E-Commerce). Namun deal-nya tetap membutuhkan manusia sebagai decision maker.Contoh: Bhinneka.com
Generasi 3:
Layanan informasi yang terintegrasi, secara otomatis tanpa intervensi manusia. Content juga bersifat personalized sesuai keinginan pengguna.
Informasi diakses menggunakan bermacam media, misalnya seluler (handphone).

Peluang & Solusi
E-Commerce merupakan peluang bagi para pengusaha khususnya pengusaha kecil dan menengah untuk menembus pasar global yang pada akhirnya akan meningkatkan daya saing ekonomi nasional.
Diperlukan upaya bersama untuk:
-Sosialisasi dan edukasi pasar E-Commerce Indonesia.
-Penyiapan infrastruktur fisik yang mendukung aplikasi E-Commerce.
-Penyiapan regulasi yang kondusif bagi E-Commerce.
-Peningkatan kualitas produk nasional agar dapat memenuhi standar internasional dalam menembus pasar global.

Alternatif Implementasi dan Teknologi E-Commerce
-Outsourcing (web developer)
-Pengembangan swadaya
Memanfaatkan Open Source Software khususnya untuk e-commerce
-Zen Cart (www.zen-cart.com),
-phpshop (www.phpshop.org)
-Virtue Mart ,Komponen Joomla. (www.virtuemart.net)
-Dan masih banyak lagi

Nilai Lebih E-Commerce

Jangkauan lebih luas (dunia). Tanpa batas-batas wilayah dan waktu.
-Penghematan sumber daya:
-Ruang untuk toko (fisik) dan SDM
-Availabilitas :Buka 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Tidak mengenal hari libur, dan hari besar
-Skalabilitas:Dapat diperluas atau diperbanyak item barang tanpa batasan.
-No Tax 
-Konsumen memperoleh informasi yang beragam dan mendetail.
-Melalui internet konsumen dapat memperoleh aneka informasi barang dan jasa dari berbagai toko dalam berbagai variasi merek lengkap dengan spesifikasi harga, cara pembayaran, cara pengiriman
-Disintermediation adalah proses meniadakan calo dan pedagang perantara.
Kelemahan E-Commerce
-Isu security
-Pembajakan kartu kredit, stock exchange fraud, banking fraud, hak atas kekayaan intelektual, akses ilegal ke system informasi (hacking) perusakan web site sampai dengan pencurian data.
-Ketidaksesuaian jenis dan kualitas barang yang dijanjikan,
-Ketidaktepatan waktu pengiriman barang
-No cash payment.
-Indonesia belum memiliki perangkat hukum yang mengakomodasi perkembangan e-commerce.
-Masalah kultur, yaitu sebagian masyarakat kurang merasa puas bila tidak melihat langsung barang yang akan dibelinya.

Diambil dari :  https://kompiqu.wordpress.com/artikel/istilah-teori/perbedaan-antara-e-commerce-dengan-e-business/

Beda Bisnis MLM dan Money Games

Anda mungkin sering terdengar dan sangat familiar dengan kata MLM dan Money Game, tapi apakah sudah tau kalau diantara keduanya itu ada perbedaan yang sangat signifikan. Banyak orang mempunyai persamaan persepsi antara :      MLM = Money Game
Disini akan menjelaskan secara singkat apa sih yang memberdakan antara MLM dan Money Game. Supaya teman-teman gak salah dalam mengambil suatu sikap dan tidak berfikiran jelek pada MLM. Wajar jika saaat ini banyak masyarakat yang mengindentikkan “Money Game dengan MLM” karena, banyak sistem bisnis “Money Game” yang mengatasnamakan MLM.
beberapa contoh perusahaan yang menjadi fokus pembahasannya, yakni pada 19 perusahaan yang telah terdaftar di Depperindag. Perusahaan-perusahaan tersebut terindikasi menerapkan system bisnis money game.
Contoh lain dari Money Game yang berkedok investasi yang pernah marak di awal tahun 2000-an. Saat ini juga ada beberapa perusahaan berbasis money game yang menutupi kedoknya dengan PULSA, Berlian, Emas, dll sebagai “Bulu”.
Saya tidak perlu menyebutkannya disini, karena bisa memicu pro dan kontra yang berkepanjangan karena perusahaan-perusahaan tersebut masih dalam masa “Booming”.
Oke langsung saja yah.. Kita kembali ke Laptop!
Sebenarnya apa sich beda sistem bisnis MLM dengan Money Game?
Ada beberapa yang sangat mendasar antara system bisnis MLM dengan Money game- selanjutnya disingkat MG, yaitu:
1. Biaya Pendaftaran Keanggotaan
MLM : Bea pendaftaran sebagai member dalam bisnis MLM kecil karena hanya untuk menggantikan biaya administrasi, seperti brosur, tas, starterkit, sampel produl, dll
MG : Pada bisnis money game, biasanya uang pendaftarannya mahal, dariRp.200.000 hingga jutaan, mereka berkedok menjual produk yang sebenarnya berkualitas sendah atau tidak sesuai dengan uang pendaftaran member, sponsor/upline mendapatkan profil secara langsung. sehingga hal ini berpotensi menimbulakn kerugian pada member yang bergabung dibawah (donline).
2. Produk
– Produk yang dijual di MLM
Memiliki ijin Depkes, BPOM, atau bersetifikat luar negeri. Mudah dijual di pasaran karena harga dan kualitas masih rasional bagi konsumen.
Usaha masih dapat berjalan meski tidak memiliki downline.
Perusahaan memberi jaminan terhadap produk yang dijual.
Perusahaan memiliki departemen khusus yang menangani Penelitian dan Pengembangan produk.
Keuntungan utama perusahaan adlah dari omzet penjualan produk, bukan dari membership.
– Sedangkan pada bisnis Money Game:
Produk biasanya tidak bisa atau sulit dijual, bahkan pelaku sendiri enggan memakainya.
Membership lebih penting dari produk atau dengan istilah lain tujuan dari transaksi adalah komisi dan bukan produk.
3. Marketing Plan
MLM : Perusahaan MLM yang murni memiliki planning pemasaran yang jelas, darimana asal keuntungannya, level atau peringkat yang bisa dicapai, passive income, aturan main, dan kode etik bagi member. Bonus yang diperoleh adalah berdasarkan OMZET penjualan. Bisnis MLM tidak mengenal sistem binary ataupun piramid dalam marketing plan-nya, tetapi menganut win-win sistem. Profit yg diperoleh upline mendatangkan profit juga bagi downline-nya. Ada prinsip keadilan dalam bisnis, dimana downline yg lebih giat dan fokus dalam bekerja bisa memperoleh profit atau peringkat karier lebih tinggi dari upline-nya.
MG : Sedangkan pada Money game, berlaku sistem binary ataupun piramid, dimana upline pasti dpt untung lbh besar. Bonus yang diperoleh adalah berasal dari Biaya Pendaftaran para membernya.
4. Surat Ijin APLI dan WFDSA
APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia) dan WFDSA (World Federation of the Direct Selling Associations), merupakan organisasi yg beranggotakan perusahaan MLM Direct Selling (Penjualan langsung) murni. Dalam organisasi ini ada departemen yang menyelidiki tentang sistem bisnis MLM apakah sesuai aturan atau tidak. Kedua organisasi tersebut juga berperan dalam memberi masukan kepada pemerintah tentang konsep MLM yang sebenarnya. Perusahaan moneygame tidak tergabung dalam anggota APLI dan WFDSA
Postingan Rekomendasi oleh  : https://prajahadinata.wordpress.com/2014/10/14/mlm-vs-money-game/